Kamis, 29 Januari 2015

cara mencangkok

3 komentar
Tugas biologi
Cara Mencangkok Tanaman





Oleh:
Rahmania Eka Putri
9A/35

      




Mencangkok merupakan salah satu cara pembiakan vegetative buatan yang bertujuan untuk memperbanyak tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya.

      Tidak semua tumbuhan bisa dicangkok. Hanya tumbuhan yang berkambium yang dapat dicangkok.

Pada praktek kali ini, kita akan mencoba mencangkok pohon mangga.

Alat dan bahan yang diperlukan:
- serabut kelapa                                          - air
-tanah                                                            -sekop
-pisau                                                             -tali
-palu

Langkah-langkah:

             
1. Lemaskan serabut kelapa dengan cara memukulnya memakai palu sampai serabut kelapa benar benar lemas

                                                                
2. Ambil  tanah yang subur secukupnya dan letakkan di wadah lalu campur dengan air secukupnya.


            
                                   
3. Kuliti cabang pohon sepanjang 5-10 cm.

              

4. Lingkarkan serabut kelapa yang telah di lemaskan. Lalu ikat bagian bawah serabut menggunakan tali.


                  
5.             Lalu isi serabut kelapa dengan tanah yang sudah diberi air.





           6. 
            Jika sudah penuh, ikat bagian atas serabut menggunakan tali.



                 
7.             Lalu siram bagian yang di cangkok dengan air dengan rata tapi jangan terlalu banyak karena jika terlalu banyak air, tanahnya akan keluar



                 




8. Agar tidak jatuh, kalian dapat tambahkan ikatan talinya.




 sekian dan terima kasih (: semoga bermanfaat







Rabu, 14 Januari 2015

angkatan balai pustaka (20-an)

16 komentar
Tugas
Bahasa Indonesia


Rahmania eka putri
9A/35

Angkatan Balai Pustaka
            Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Abdul Muis sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka     
1.           Merari Siregar
Lahir di sipirok, Sumatra utara, 13 juni 1896. Wafat di kalianget, Madura, jawa timur, 23 april 1941. Pendidikan di Handelscorrespondent Bond A di Jakarta (1923) Azab dan Sengsara (1920)
·        Azab dan sengsara (1920)
·        Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
·        Cinta dan Hawa Nafsu

2.           Marah Roesli
Lahir di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889 dan meninggal di Bandung pada tanggal 17 Januari 1968

·         Siti Nurbaya (1922)
Pada suatu hari setelah pulang dari sekolah, Samsulbahri mengajak Siti Nurbaya bertamasya ke gunung Padang bersama-sama dua orang temannya, yakni Zainularifin, anak seorang jaksa kepala di Padang yang bernama Sutan Pamuncak, dan Bakhtiar, anak seorang guru kepala SD. Tiga bulan lagi zainularifin akan melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Dokter Jawa di Jakarta; sedang Bakhtiar melanjutkan ke Sekolah Opzichter (KWS) di Jakarta pula. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah mereka bertamasyra ke gunung padang. Di gunung Padang itulah Samsulbahri menyatakan cintanya kepada Siti Nurbaya dan mendapat balasan. Sejak itulah mereka itu mengadakan perjanjian akan sehidup semati.
Pada suatu hari yang telah ditentukan, berangkatlah Samsulbahri melanjutkan sekolahnya ke Jakarta. Sekolahnya menjadi satu dengan Zainularifin.  Di padang ada seorang-orang kaya bernama Datuk Maringgih. Ia selalu berbuat kejahatan secara halus sehingga tidak diketahui orang lain. Kekayaannya itu didapatnya dengan cara tidak halal. Untuk itu ia mempunyai banyak kaki tangan, antara lain ialah pendekat Tiga. Pendekat Empat, dan Pendekar dirinya sambil menyeret Siti Nurbaya, maka pukulan Datuk Maringgih tidak mengenai sasarannya. Akibatnya tersungkurlah Datuk Maringgih. Dengan segera Samsulbahri menendangnya, dan karena kesakitan, berteriaklah Datuk Maringgih minta tolong. Mendengar teriakan Datuk Maringgih itulah maka pada suatu saat itu juga keluarlah Pendekar Lima dari persembunyiannya dengan bersenjata sebilah keris.
Melihat Pendekar Lima membawa keris itu, berteriaklah Situ Nurbaya sehingga teriakannya itu terdengar oleh para tetangga dan Baginda Sulaiman yang sedang sakit itu. Karena disangkanya Siti Nurbaya mendapatkan kecelakaan, maka bangkitlah Baginda Sulaiman dan pergi ke tempat anaknya itu. Tetapi karena kurang hati-hati, terperosoklah ia jatuh, sehingga seketika itu juga Baginda Sulaiman meninggal. Ia dikebumikan di gunung Padang.   Pada waktu pendekar lima hendak menikam Samsulbahri, menghindarlah Samsulbahri ke samping. Dan pada saat itu juga ia berhasil menyepak tangan pendekar lima, sehingga keris yang ada di tangannya terlepas. Sementara itu datanglah para tetangga yang mendengar teriakan Siti Nurbaya tadi. Melihat mereka datang, larilah pendekar lima menyelinap ke tempat yang gelap.
Di antara para tentagga yang datang itu, kelihatan pula Sutan Mahmud Syah yang hendak menyelesaikan peristiwa itu. Setelah itu mendegar penjelasan Datuk Maringgih tentang hal anaknya itu, maka Samsulbahri pun diajaknya pulang, dan karena malunya maka diusirlah Samsulbahri pun Mahmud Syah tanpa dipikirkannya masak-masak lebih dahulu lagi. Pada malam itu juga secara diam-diam pergilah Samsulbahri ke Teluk Bayur untuk naik kapal pergi ke Jakarta. Pada pagi harinya ributlah Siti Maryam mencari anaknya. Setelah gagal mencarinya di sana-sini, maka dengan sedihnya, pergilah Siti Maryam ke rumah saudaranya di Padangpanjang. Di sana karena kesedihannya itu, ia menjadi sakit-saki saja.
Sejak kematian ayahnya, Siti Nurbaya menunjukkan kekerasan hatinya kepada Datuk Maringgih. Ia berani mengusir Datuk Maringgih dan tak sudi mengaku suaminya lagi. Ia berusaha hendak membunuh Siti Nurbaya. Setelah perisitwa pertengkaran dengan Datuk Maringgih itu. Siti Nurbaya tinggal di rumah saudara sepupunya yang bernama Alimah. Di rumah itulah Siti Nurbaya mendapat petunjuk-petunjuk dan nasihat, antara lain ialah untuk menjaga keselamatan atas dirinya, Siti Nurbaya dinasihati oleh Alimah agar pergi saja ke Jakarta, berkumpul dengan Samsulbahri. Petunjuk dan nasihat Alimah itu sepenuhnya diterima oleh Siti Nurbaya dan diputuskannya akan pergi ke Jakarta bersama Pak Ali yang telah berhenti ikut Sutan Mahmud Syah sejak pengusiran diri atas Samsulbahri tersebut. Kepada Samsul bahri pun ia memberitahukan kedatangannya itu. Tapi malang bagi Siti Nurbaya, karena percakapannya dengan Alimah tersebut dapat didengar oleh kaki tangan Datuk Maringgih yang memang sengaja memata-matainya.
A.UNSUR INTRINSIK

1. Tema
 kisah cinta yang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia yaitu Siti Nurbaya dan Samsulbahri walaupun terpisahkan oleh jarak dan waktu.

2. Tokoh Karakter dan Penokohan

Siti Nurbaya              : baik, rela berkorban demi ayahnya.
Samsulbahri             : baik, bijak, rela berkorban demi Siti Nurbaya.
Baginda Sulaiman  : pasrah pada nasib, kurang bijak, rela mengorbankan anaknya demi membayar hutang.
Sultan Mahmud       : kurang berpikir panjang, tidak bijak dan terlanjur terburu-buru dalam membuat keputusan.
Datuk Maringgih : culas, moralnya bobrok, serakah, jahat.

3. Latar
Latar Tempat : Di kota Padang dan di Stovia, Jakarta (tempat sekolah Samsulbahri)
Latar Waktu   : pada masa dimana Kota Padang masih terjadi banyak huru hara juga saat dimana masih banyak pemberontakan – pemberontakan  (diceritakan Datuk Maringgih salah satu dari pemberontak tersebut).

4. Alur

Eksposisi                    : dua sejoli yang akan berpisah karena Samsulbahri akan    menuntut ilmu ke Jakarta.
Insiden Permulaan :  Datuk Maringgih menjadi culas dan menyuruh anak buahnya membakar semua kiosnya.
Penanjakan Laku    : Samsulbahri mengetahui Siti Nurbaya menikah dengan Datuk Maringgih
Klimak                        : Samsulbahri saling bunuh dengan Datuk Maringgih
Penurunan Laku     : Samsulbahri ikut terbunuh setelah berhasil membunuh Datuk Maringgih
Penyelesaian           : Samsulbahri dikuburkan didekat makam Siti Nurbaya


5. Sudut Pandang Pengarang : Menggunakan sudut pandang orang ke – 3

6. Gaya Bahasa: Menggunakan gaya bahasa Melayu

7. Amanat
Demi orang-orang yang dicintainya seorang wanita bersedia mengorbankan apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya dapat merugikan dirinya sendiri. Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang tuanya. Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga mungkin berakibat penyesalan di akhir khayatnya.

B. Unsur Ekstrinsik

1.         Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup. Keadaan Subjektivitas: pengarang berusaha melakukan inovasi baru, dengan menggebrak Sastra Indonesia Modern dengan melncurkan novel ini dengan gaya bahasa sendiri. Pandangan hidup penulis adalah pandangan hidup ke depan dan penuh inovasi baru. Dan juga tak terpaut juga terkekang dengan adat istiadat lama.

2.         Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya.
Psikologi pengarang: merasa terkekang dengan adat istiadat lama, dan melakukan terobosan dengan mengarang buku novel, “Siti Nurbaya”.

3.         Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
Keadaan yang terjadi: masih terkekang dalam kehidupan adat istiadat yang masih kuno, baik dari segi ekonomi, politik dan sosialnya. Lalu pengarang berusaha membuat terobosan baru dengan karyanya.

4.         Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.
Pandangan yang terjadi: pada saat itu pandangan karya seni cenderung monoton, dan gaya bahsanya hanya itu saja, jadi Marah Rusli membuat gebrakan dengan memunculkan gaya bahasa Melayu.

Bahasa          : menggunakan bahasa melayu
Adat                : banyak mengandung adat istiadat melayu
Etika               :pada bagian tertentu, ada kekerasan. Tetapi pada bagian yang lain etika nya baik
Kebiasaan     : kebiasaan salah satu pemeran ada yang keras dan pemarah. Tetapi juga ada pemain yang kebiasaannya baik
·         La Hami (1924)
·         Anak dan Kemenakan (1956)

3.           Muhammad Yamin
·         Tanah Air (1922)
·         Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
·         Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
·         Ken Arok dan Ken Dedes (1934)


4.            Nur Sutan Iskandar
·         Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
·         Cinta yang Membawa Maut (1926)
·         Salah Pilih (1928)
·         Karena Mentua (1932)
·         Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
·         Hulubalang Raja (1934)
·         Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
5.            Tulis Sutan Sati
·         Tak Disangka (1923)
·         Sengsara Membawa Nikmat (1928)
·         Tak Membalas Guna (1932)
·         Memutuskan Pertalian (1932)
6.           Djamaluddin Adinegoro
·         Darah Muda (1927)
·         Asmara Jaya (1928)

7.           Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
·         Pertemuan (1927)
8.           Abdul Muis
·         Salah Asuhan (1928)
·         Pertemuan Djodoh (1933)
9.           Aman Datuk Madjoindo
·         Menebus Dosa (1932)
·         Si Cebol Rindukan Bulan (1934)

·         Sampaikan Salamku  Kepadanya (1935)
 

studyfirst Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template