Tugas
Bahasa
Indonesia
Rahmania eka putri
9A/35
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan
Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun
1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun,
gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Abdul Muis sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka
|
Balai
Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul
dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti
kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai
Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda;
dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak,
dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat
disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak
sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran
para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada
angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Pada
masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah
Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya
menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu.
Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh
penulis-penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai
Pustaka
Lahir di sipirok, Sumatra utara, 13 juni
1896. Wafat di kalianget, Madura, jawa timur, 23 april 1941. Pendidikan di
Handelscorrespondent Bond A di Jakarta (1923) Azab dan
Sengsara (1920)
·
Azab dan sengsara (1920)
Lahir di Padang
pada tanggal 7 Agustus 1889 dan meninggal di Bandung pada tanggal 17 Januari
1968
Pada suatu hari
setelah pulang dari sekolah, Samsulbahri mengajak Siti Nurbaya bertamasya ke
gunung Padang bersama-sama dua orang temannya, yakni Zainularifin, anak seorang
jaksa kepala di Padang yang bernama Sutan Pamuncak, dan Bakhtiar, anak seorang
guru kepala SD. Tiga bulan lagi zainularifin akan melanjutkan sekolahnya ke
Sekolah Dokter Jawa di Jakarta; sedang Bakhtiar melanjutkan ke Sekolah
Opzichter (KWS) di Jakarta pula. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah mereka
bertamasyra ke gunung padang. Di gunung Padang itulah Samsulbahri menyatakan
cintanya kepada Siti Nurbaya dan mendapat balasan. Sejak itulah mereka itu
mengadakan perjanjian akan sehidup semati.
Pada suatu hari
yang telah ditentukan, berangkatlah Samsulbahri melanjutkan sekolahnya ke Jakarta.
Sekolahnya menjadi satu dengan Zainularifin. Di
padang ada seorang-orang kaya bernama Datuk Maringgih. Ia selalu berbuat
kejahatan secara halus sehingga tidak diketahui orang lain. Kekayaannya itu
didapatnya dengan cara tidak halal. Untuk itu ia mempunyai banyak kaki tangan,
antara lain ialah pendekat Tiga. Pendekat Empat, dan Pendekar dirinya sambil
menyeret Siti Nurbaya, maka pukulan Datuk Maringgih tidak mengenai sasarannya.
Akibatnya tersungkurlah Datuk Maringgih. Dengan segera Samsulbahri menendangnya,
dan karena kesakitan, berteriaklah Datuk Maringgih minta tolong. Mendengar
teriakan Datuk Maringgih itulah maka pada suatu saat itu juga keluarlah
Pendekar Lima dari persembunyiannya dengan bersenjata sebilah keris.
Melihat Pendekar
Lima membawa keris itu, berteriaklah Situ Nurbaya sehingga teriakannya itu
terdengar oleh para tetangga dan Baginda Sulaiman yang sedang sakit itu. Karena
disangkanya Siti Nurbaya mendapatkan kecelakaan, maka bangkitlah Baginda
Sulaiman dan pergi ke tempat anaknya itu. Tetapi karena kurang hati-hati,
terperosoklah ia jatuh, sehingga seketika itu juga Baginda Sulaiman meninggal.
Ia dikebumikan di gunung Padang. Pada
waktu pendekar lima hendak menikam Samsulbahri, menghindarlah Samsulbahri ke
samping. Dan pada saat itu juga ia berhasil menyepak tangan pendekar lima,
sehingga keris yang ada di tangannya terlepas. Sementara itu datanglah para
tetangga yang mendengar teriakan Siti Nurbaya tadi. Melihat mereka datang,
larilah pendekar lima menyelinap ke tempat yang gelap.
Di antara para
tentagga yang datang itu, kelihatan pula Sutan Mahmud Syah yang hendak
menyelesaikan peristiwa itu. Setelah itu mendegar penjelasan Datuk Maringgih
tentang hal anaknya itu, maka Samsulbahri pun diajaknya pulang, dan karena
malunya maka diusirlah Samsulbahri pun Mahmud Syah tanpa dipikirkannya
masak-masak lebih dahulu lagi. Pada malam itu juga secara diam-diam pergilah
Samsulbahri ke Teluk Bayur untuk naik kapal pergi ke Jakarta. Pada pagi harinya
ributlah Siti Maryam mencari anaknya. Setelah gagal mencarinya di sana-sini,
maka dengan sedihnya, pergilah Siti Maryam ke rumah saudaranya di
Padangpanjang. Di sana karena kesedihannya itu, ia menjadi sakit-saki saja.
Sejak kematian
ayahnya, Siti Nurbaya menunjukkan kekerasan hatinya kepada Datuk Maringgih. Ia
berani mengusir Datuk Maringgih dan tak sudi mengaku suaminya lagi. Ia berusaha
hendak membunuh Siti Nurbaya. Setelah perisitwa pertengkaran dengan Datuk
Maringgih itu. Siti Nurbaya tinggal di rumah saudara sepupunya yang bernama
Alimah. Di rumah itulah Siti Nurbaya mendapat petunjuk-petunjuk dan nasihat,
antara lain ialah untuk menjaga keselamatan atas dirinya, Siti Nurbaya
dinasihati oleh Alimah agar pergi saja ke Jakarta, berkumpul dengan
Samsulbahri. Petunjuk dan nasihat Alimah itu sepenuhnya diterima oleh Siti
Nurbaya dan diputuskannya akan pergi ke Jakarta bersama Pak Ali yang telah
berhenti ikut Sutan Mahmud Syah sejak pengusiran diri atas Samsulbahri
tersebut. Kepada Samsul bahri pun ia memberitahukan kedatangannya itu. Tapi
malang bagi Siti Nurbaya, karena percakapannya dengan Alimah tersebut dapat
didengar oleh kaki tangan Datuk Maringgih yang memang sengaja memata-matainya.
A.UNSUR INTRINSIK
1. Tema
kisah cinta yang tak kunjung padam dari sepasang anak
manusia yaitu Siti Nurbaya dan Samsulbahri walaupun terpisahkan oleh jarak dan
waktu.
2. Tokoh Karakter dan
Penokohan
Siti Nurbaya : baik, rela berkorban demi
ayahnya.
Samsulbahri : baik, bijak, rela berkorban demi
Siti Nurbaya.
Baginda Sulaiman : pasrah pada nasib, kurang bijak, rela
mengorbankan anaknya demi membayar hutang.
Sultan Mahmud : kurang berpikir panjang, tidak bijak dan
terlanjur terburu-buru dalam membuat keputusan.
Datuk Maringgih :
culas, moralnya bobrok, serakah, jahat.
3. Latar
Latar Tempat : Di
kota Padang dan di Stovia, Jakarta (tempat sekolah Samsulbahri)
Latar Waktu : pada masa dimana Kota Padang masih terjadi
banyak huru hara juga saat dimana masih banyak pemberontakan –
pemberontakan (diceritakan Datuk Maringgih salah satu dari pemberontak
tersebut).
4. Alur
Eksposisi : dua sejoli yang akan
berpisah karena Samsulbahri akan menuntut
ilmu ke Jakarta.
Insiden Permulaan : Datuk Maringgih menjadi culas dan
menyuruh anak buahnya membakar semua kiosnya.
Penanjakan Laku : Samsulbahri mengetahui Siti Nurbaya menikah
dengan Datuk Maringgih
Klimak : Samsulbahri saling
bunuh dengan Datuk Maringgih
Penurunan Laku : Samsulbahri ikut terbunuh setelah
berhasil membunuh Datuk Maringgih
Penyelesaian : Samsulbahri dikuburkan didekat
makam Siti Nurbaya
5. Sudut Pandang
Pengarang : Menggunakan sudut pandang orang ke – 3
6. Gaya Bahasa: Menggunakan gaya bahasa Melayu
7. Amanat
Demi orang-orang yang dicintainya seorang wanita bersedia
mengorbankan apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya dapat merugikan dirinya
sendiri. Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang tuanya. Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan
suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga mungkin
berakibat penyesalan di akhir khayatnya.
B. Unsur Ekstrinsik
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang
memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup. Keadaan Subjektivitas:
pengarang berusaha melakukan inovasi baru, dengan menggebrak Sastra Indonesia
Modern dengan melncurkan novel ini dengan gaya bahasa sendiri. Pandangan hidup
penulis adalah pandangan hidup ke depan dan penuh inovasi baru. Dan juga tak
terpaut juga terkekang dengan adat istiadat lama.
2. Psikologi pengarang (yang
mencakup proses kreatifnya. Psikologi pengarang: merasa terkekang dengan
adat istiadat lama, dan melakukan terobosan dengan mengarang buku novel, “Siti
Nurbaya”.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti
ekonomi, politik, dan sosial.
Keadaan yang terjadi: masih terkekang dalam
kehidupan adat istiadat yang masih kuno, baik dari segi ekonomi, politik dan
sosialnya. Lalu pengarang berusaha membuat terobosan baru dengan karyanya.
4. Pandangan hidup suatu bangsa dan
berbagai karya seni yang lainnya.
Pandangan yang
terjadi: pada saat itu pandangan karya seni cenderung monoton, dan gaya
bahsanya hanya itu saja, jadi Marah Rusli membuat gebrakan dengan memunculkan
gaya bahasa Melayu.
Bahasa : menggunakan bahasa melayu
Adat : banyak mengandung adat
istiadat melayu
Etika :pada bagian tertentu, ada
kekerasan. Tetapi pada bagian yang lain etika nya baik
Kebiasaan : kebiasaan salah satu pemeran ada yang
keras dan pemarah. Tetapi juga ada pemain yang kebiasaannya baik